Terngianglah ucapan ibunda : “Ibu tidak butuh anak yang pinter doangan. Ibu lebih butuh anak yang bisa doain ibu, yang bisa inget ibu di kala hidup maupun di kala mati. Ibu lebih ga butuh lagi anak yang pinter, tapi sombong. Sombong sama ibu, sombong sama sodara, apalagi sombong sama Allah.. dipanggil ama ibu engga nyahut, dipanggil sama Allah juga ga nyahut. Punya kuping kayak ga punya kuping. Ibu demen kalo ngelihat anak megang Al-Qur’an, baca Al-Qur’an. Kalo nanti ibu meninggal, ibu denger dari hadits, nanti ibu boleh nengok anak-anak ibu saban malam Jum’at. Ga tau dah, ini hadits dhoif apa engga. Tapi kalo emang bener, terus ibu ngelihat anak-anak ibu pada ngaji Yaasiin, ngaji al-Kahfi, betapa bahagianya hati ibu. Ibu ridho ama anak yang modelnya begini. Ibu ga minta duit. Sebab ibu ga butuh duit. Ibu sudah ada Allah. Tapi ibu butuh kamu. Butuh kamu supaya selamat. Jadi ga ngerepotin ibu! Dengan kamu selamat saja, ibu udah ga akan repot. Di dunia repot ama polisi. Di akhirat repot lagi berurusan dengan malaikat Allah. Kalo mau sekolah yang tinggi, silahkan. Tapi jangan lupa ngaji. Pentingin ngaji. Kalo mau sekolah tinggi, kerja tinggi, usaha tinggi, silahkan. Tapi sholat nomor satu. Sama orang tua nomor satu. Buat apa tinggi hidup, kalo merendahkan urusan akhirat. Kejar akhirat, dunia ngikut. Tapi gi dah, kejar dunia. Ntar dunia ga dapet, dunia juga ilang. Ibu doain; robbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wafil aakhiroti hasanah waqina ‘adzabannar. Dan kalo mau dapet dua-duanya; dunia dan akhirat benerin dulu bismillahnya, kuatin dulu bismillahnya...”
Kalimat terakhir yang saya cuplik inilah yang menjadi filosofi I’daad: benerin dulu bismillahnya, kuatin dulu bismillahnya. Ketika saya kemudian mendirikan sekolah, mendirikan pesantren, dengan izin Allah, dan dibantu oleh kawan-kawan, dari 2004 yang lalu, belajarlah saya satu hal yang merupakan pengejawantahan filosofi I’daad: didik dulu dengan Al-Qur’an dan as-Sunnah maka anak akan gampang dibentuk, dan gampang di didik. Didik dulu dengan ngaji ini ngaji itu. Ngaji sesuatu yang di butuhkan oleh mereka, yang jauh dari sekedar duit, pekerjaan, karir dan masa depan yang sifat dunia. Yakni ngaji tentang aqidah, akhlak, iman, islam, tauhid, dan keyakinan. Ini beres, maka insya Allah anak akan bisa di isi apa saja, dan siap. Kelak mereka akan menjadi orang, mereka menjadi orang yang siap.
Saya merasakan repotnya – alhamdulillah – mendidik dan mengajar anak-anak yang tidak di siapkan terlebih dahulu. Ketidakrataaan profil anak-anak yang masuk, membuat sistem pendidikan di banyak lembaga pendidikan tidak berjalan sempurna dengan semestinya. Begitu juga di Daarul Qur’an. Ada anak-anak yang sudah bagus bacaannya, bahkan hafal 1-2, hingga 30 juz. Tapi banyak juga yang belum bisa baca Al-Qur’an!
Saya merasakan repotnya para pendidik dan pengajar di Daarul Qur’an ketika kualitas anak-anaknya sendiri beragam. Ada yang sudah cas cis cus bahasa Inggrisnya, bahasa Arabnya, ada yang masih a-i-u-e-o.
Belum lagi latar belakang keluarga masing-masing, yang membawa karakter anak masing-masing. Menambah daftar kerepotan itu. Alhamdulillah, Allah menjadikannya ibadah, sehingga tiada kata lelah dilontarkan.
Sementara itu, kalau di tetapkan syarat dan ketentuan yang tinggi, justru akhirnya akan berlawanan dengan spirit pendidikan. Bukankah pendidikan itu salah satunya bertujuan mengajarkan yang belum tahu supaya tahu, yang belum bisa supaya bisa?
Maka atas ucapan Ibunda itulah kemudian “bismillah” dikebumikan. Bismillah itu diterjemahkan menjadi I’daad. Kita persiapkan dulu anak didik kita. Warnanya disamakan, kemampuan bahasanya di upgrade, kemampuan baca tulis Al-Qur’annya, hingga ke Tahfidz dan akhlaknya, di upayakan supaya bisa setara, tanpa melupakan karakter anak masing-masing dan keragaman kemampuannya.
Program I’daad ini sendiri adalah penyempurnaan dari Model Santri Taruna yang dikembangkan Daarul Qur’an sejak 2008.
Ketika menSet-Up program I’daad ini, terngiang pula ucapan Rasulullahyang menjadi sabda buat kita semua: “Aku tinggalkan dua hal, yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya; Al-Qur’an dan as-Sunnahku, maka tidak akan kalian sesat selama-lamanya.
Terngiang barisan ayat demi ayat dari firman Allah, Al-Qur’an yang mulia. Dimana di tangan Allah kendali semua arah kehidupan. Allah yang menurunkan Al-Qur’an sebagai panduan hidup, bahwa Al-Qur’an itu petunjuk, pembeda antara yang halal dan haram, yang benar dan yang batil. Itu semua karena Allah Yang Memiliki Kehidupan, tahu bahwa manusia yang hidup jika tidak diberi panduan hidup, sungguh ia akan tersesat.
Sekarang menjadi jelas, bahwa banyak manusia sebenarnya tidak tahu akan Al-Qur’an, sehingga tidak lagi bisa mengenali yang halal apa yang haram. Lihat saja sekeliling kita; apa yang di beritakan apa yang di bicarakan. Andaipun ada yang tahu Al-Qur’an, rupanya Al-Qur’an itu tidaklah hidup di dalam kehidupannya. Tidak dipake.
Jika dikehidupan kita saja sudah begini, bagaimanakah lagi dengan anak-anak kita yang hidup dengan lebih banyak tontonan, dan godaan hidup? Aurat wanita di zaman kita dulu hidup, masih minim buat dilihat. Sekarang? Begitu terbuka. Dulu, paling banter surat-suratan. Video porno susah di dapat. Bukan sebab susah kaset beta dan VHS nya saja, tapi playernya juga susah. Sekarang? Wuah, merk-merk HP generasi tercanggih, anak-anak SD pun hafal, dan bahkan punya! Dan alat-alat yang sejatinya ini sangatlah positif, kemudian menjadi neraka buat anak-anak kita, sebab mereka tidak siap dan tidak disiapkan. Pada sebagian wajah anak-anak orang kaya, banyak yang kekayaan orang tuanya pun semakin mempercepat anak-anaknya masuk neraka. Mereka bermaksiat dengan kendaraan yang dibelikan orang tuanya. Mereka bermaksiat dengan uang yang diberikan orang tuanya. Mengerikan, bahakan disebagian wajah anak-anak yang tidak mampu, pun juga malah ikut-ikutan tidak selamat. Dua-duanya tidak akan selamat, jika tidak berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah. Dan bagaimana lagi bisa berpegang teguh, jika ternyata mengenalnya pun tidak. Subhanallah.
Para Ayah, para Ibu... Anak-anak kita sungguh mengarungi hidup yang berat jika ia tidak diberi sampan yang tangguh, sampan yang kokoh, dan juga dayung yang kuat. Sampannya adalah Al-Qur’an, dan dayungnya adalah as-Sunnah.


