|
SUASANA TAHFIZH AL-QURAN DI SDQ I
Oleh: Masagus A. Fauzan
Di masjid Darul
Quran yang terletak di komplek Sekolah Darul Quran Internasional (SDQI), kita
dapat melihat beberapa orang remaja sedang menghafalkan alquran, di bawah
bimbingan beberapa orang guru. Mereka adalah murid kelas VII dan kelas XI SDQI.
Dengan suara mereka yang lembut, mereka menghafal ayat demi ayat alquran,
sambil kepala mereka bergoyang-goyang mengikuti irama bacaan. Sungguh
pemandangan yang sangat sedap dipandang. Sementara itu, dengan mata terpejam,
seorang laki-laki berwajah jernih, berkumis dan berjenggot tebal, memakai peci,
berbaju koko, menyimak hafalan murid-muridnya. Tentu saja semuanya dilakukan di
luar kepala.
Pemandangan menarik
di dalam masjid ketika jam tahfizh masuk anak-anak secara teratur kumpul di
kelompoknya masing-masing membentuk sebuah lingkaran. Seluruhnya berjumlah 7
kelompok putera dan 4 kelompok puteri. Satu kelompok terdiri dari 7 hingga 10
orang anak.
Ketika “menyetorkan”
hafalan, seorang murid duduk bersila di hadapan gurunya yang duduk bersila
sambil bersandar di tiang masjid. Lutut mereka saling bersentuhan, dan dengan
suara pelan tetapi sangat jelas, sang murid membacakan ayat demi ayat yang
sudah dihafalnya di rumah.
Anak-anak yang
berusia belasan tahun terlihat baru memulai hafalan mereka. Dari bibir mereka meluncur ayat-ayat alquran
dengan makhraj yang bagus. Panjang-pendeknya lafal, mereka ucapkan
dengan tepat, sehingga membentuk irama yang muncul bagaikan air mengalir,
alamiah, dan tidak dibuat-buat. Makhraj dan tajwid, memang
merupakan syarat utama yang harus dikuasai terlebih dahulu sebelum seorang anak
memulai kegiatan menghafal alquran. Untuk itu, terdapat beberapa orang guru
yang secara khusus mengajar tahsin qiraati.
Seorang murid
memperoleh bimbingan tiga kali dalam sehari, dilakukan antara waktu Maghrib dan
Isya’, Subuh hingga terbit fajar, dan ba’da Zuhur. Bimbingan di masjid Darul
Quran itu, biasanya hanya merupakan pengecekan terhadap hafalan para murid.
Sebab, pada hari sebelumnya, guru memberikan tugas kepada mereka untuk
menghafalkan sekian ayat, yang kemudian mereka “setorkan” kepada gurunya di
masjid pada waktu yang telah ditetapkan. Artinya, kegiatan menghafal alquran
itu sendiri mereka lakukan di kamar, di bawah pohon, dan taman, sedangkan yang
di masjid hanya “setoran”.
Para murid harus
terlebih dahulu “kawin” dengan alquran. Artinya, dia harus memiliki mushaf khusus
dan tidak boleh menghafal dengan berganti-ganti mushaf. Dia harus hafal
jumlah halaman mushafnya, jumlah ayat dalam setiap juz dan halaman, dan
mesti hafal pula awal dan akhir setiap ayat yang terdapat dalam setiap halaman.
Langkah pertama
menghafal alquran di SDQI, siswa menghafal surah-surah pendek yang termasuk di
Juz ‘Amma dan surah-surah pilihan seperti Al-Waqi’ah, Ar-Rahman, Yasin dan
al-Mulk. Hal ini bertujuan untuk membiasakan para siswa menghafal secara bertahap
dari surah pendek baru kemudian masuk ke surah panjang yang berada di bagian
depan mushaf.
Kebiasaan ini juga
terjadi di beberapa lembaga tahfizhul al-Quran terutama pulau Jawa. Sebelum
memulai menghafal surah al-Baqarah, diharuskan terlebih dahulu menghafal
surah-surah tertentu sebagai pendahuluan atau warming up: Surah al
Sajdah, Surah Yasin, Surah al Dukhan, dan Surah al Mulk. Akan tetapi, kebiasaan
ini tidak berlaku mutlak.
Dalam satu hari
murid diharuskan menghafal minimal 3 ayat. Di antara metode yang diterapkan
untuk menghafal adalah musyafahah atau talaqqi. Bentuknya adalah guru membaca ayat yang akan
dihafal kemudian murid membaca seperti bacaan guru. Selain itu
Untuk lebih menambah daya tarik dan daya cepat
menghafal, siswa dapat mendengar murattal syeikh yang telah direkam
dalam kaset, CD/DVD murattal, al-mushaf al-mu‘allim, program
Qur'an Playyer 2.2, Qari CD, read boys for tahfiz.
Diantara syeikh yang sudah merekam seperti Mahmud Khalîl al-Husari,
‘Abd al-Rahman al-Huzaifi, Muhammad Ayyûb, Muhammad
Shiddîq al-Minsyâwi, Abd al-Rahman al-Sudais, al-Syuraim, Sa‘ad al-Ghâmidî,
‘Abdullâh al-Matrûd dan lain-lainnya. Caranya yaitu dengan mendengar
tilawah syeikh-syeikh tersebut dalam CD Player, MP3, MP4, komputer, walkman,
dan lain-lain. Kaset atau CD diputar sesuai surat yang akan dihafal kemudian
diulang-ulang. Setelah beberapa kali diulang, murid mengikuti bacaan tersebut
sambil memperhatikan apakah ada yang salah atau kurang, demikian seterusnya
sampai hafal. Setelah itu baru membaca sendiri tanpa bantuan media.
Sedangkan untuk
muraja’ah (mengulang hafalan), siswa diajak melakukan latihan atau exercise
menulis ayat yang telah dihafal di atas kertas kosong. Selain itu agar lebih
mengasyikkan, siswa diberikan lembaran latihan berupa alquran yang tinggal
diisi kata bantunya seperti mengisi TTS (Teka-Teki Silang). Dalam mengulang
hafalan, murid cukup membaca kata bantu ayat di depan, di tengah dan di ujung,
kemudian menyambungkannya berdasarkan hafalan yang dimiliki. Metode ini
dikembangkan di sekolah ini karena pernah dipraktekkan oleh Ustaz Yusuf Mansur
dan sudah terbukti mampu memperlancar hafalan.
|
Candies
where can we buy the brands some people want to buy brand...
Candies
where can we buy the brands some people want to buy brand...
Candies
link:http://www.ghd-chi.comMy grandparents were married link:http://www.solarcopper.com/index.asp for over half a century, and
played their ...
Candies
where can we buy the brands some people want to buy brand...
Candies
link:http://www.hzzhuohang.comBut soon the boy grew older